Kamarku,
30 Agustus 2013
Aku
tak tau persis kenapa malam ini yang aku pilih sebagai malam pertamaku mulai
menuliskan apa yang aku rasakan terhadap diri ikhwan itu sejak awal aku akui
mengagumi sosok dan kepribadianya. Oh mungkin karena aku baru saja selesai
membaca baca isi tulisanya yang memang dari situ ku kagumi dia. Sepulang dari
rutinitasku yang Alhamdulillah padat dengan agenda kegiatanku sampai bulan
depan, kurebahkan diri di kasurku dikamar tercinta, mata memang belum dapat
tidur aku membuka akun twitterku niatnya aku ingin menulis sebuah tweet
“semangat kak” karena sejak sore hingga malam aku lihat wajahnya penuh lelah
tapi tetap dengan keinginanya tentang programnya yang luar biasa. Aku terlibat
langsung dalam program itu.
Iseng aku ‘search’ twitternya dan stalking time linenya dan
me retweeted beberapa tweet saja yang ingin ku retweet tanpa alasan yang jelas,
walau semua tweetnya sangat menarik untuku. Lalu sudah kuniatkan membalik badan
dan ingin membaca doa tidur. Tapi rasanya hati ini terlalu bersemangat ingin
mencari tau apa saja yang bisa aku tau tentang diri ikhwan itu yang begitu tak
terlihat dengan kasat mata,sekali lagi aku katakana justru aku mengenalnya dari
tulisanya. Karena sejak masa sekolah lagi, aku memang mendambakan seorang
lelaki yang bijak merangkai kata kata, menyukai lelaki yang menyukai
sastra,karena sasstra adalah alasan seorang seniman untuk tetap hidup,sastra
bagiku begitu kuat dan menjadi unsur terpenting, walau aku tak seindah pengertian sastra itu sendiri.
Kutemukan sebuah tulisan tanpa spasi semacam namanya yang
dia pilih sebagai username salah satu blognya, tidak sulilt bagiku untuk
mendapat akses masuk kesitu, “wah” batinku saat membaca judulnya, ini bukan
pertama kalinya aku mengunjungi blog yang jujur saja memang sangat inspiratif
untuku. Tapi malam ini aku entah tanganku entah hatiku yang terus men “scrool
down” cursor ku berharap menemukan baacaan bacaan lain atau yang pernah dia
tuliskan mengenai hatinya,puisinya, wanita yang diinginkanya,atau apapun yang
menjurus ke arah situ.
Bak gayung bersambut, aku menemukan beberapa judul “Wanita
Terindah itu adalah”, “Kalau aku boleh Memilih” dan “Selamat Ulang Tahun mak”
khusyu aku membaca satu persatu tulisan itu sampai aku batalkan niatku tidur
atau menonton tim bola kesayanganku yang lagi tayang malam ini.
Sebelumnya aku memang telah siap andai saja apa yang aku
baca kelak akan hanya membuat aku kecil hati, minder dan bercermin sedalam
dalamnya, bahkan untuk mengaguminya saja aku belum tentu pantas. Ah tapi
biarlah toh tidak akan sampai frustasi atau depresi kok InsyAllah. Benar saja
setelah kubaca satu persatu tulisan itu kudapati bulir bulir di kelopak mataku,merinding.
aku harap ini adalah air mata karena menahan kantuk, ah tapi kok lumayan perih
dan darahpun turut berdesir hebat. Apa2 suka dibawa perasaan deh.
Ketika aku pahami baik2 pemilihan katanya yang begitu
lembut, bahwasanya dia telah ditawarkan “mawar wangi” seorang hafidzah gadis
penghafal Al quran oleh orang tuanya, aku sempat membacanya sepotong sepotong
tapi kali ini aku seperti mendapat konfirmasi secara otomatis dari sepenggal
penggal perkiraanku tempo hari. Lalu apa yang salah? Dia adalah seorang ikhwan,
aktivis dakwah, seorang mahasiswa tarbiyah semester akhir dan seorang guru
bahasa Arab di SDIT, seorang anak lelaki kebanggaan emaknya, sudah barang tentu
orang tuanya mencarikan yang terbaik bagi anaknya. Dimana letak kesalahanya ? yap
benar kesalahanya terletak pada diriku yang sedari awal tak menimbang nimbang
siapa orang yang aku ceritakan saat emakku bertanya “seperti apa pilihanmu?”
aku yang salah tidak mengira ngira siapa
seseorang yang namanya aku cantumkan di dalam proposal permohonanku kepada
Allah saat meminta hal yang satu itu.
Lalu
kemudian aku baca lagi kalimat demi kalimat kali ini serupa curahan hati saat
mengucapkan selamat ulang tahun kepada ibunya, setelah mengucapkan terimakasih
dia menuliskan bahwasanya sebagai seorang lelaki dewasa dia tertarik dengan
seorang perempuan, seorang akhwat aktivis dakwah yang satu organisasi denganya,
yang dalam dan panjang jilbabnya dan yang kuat pemahaman agamanya Dan
menyebutkan detail demi detail kemolekan akhwat itu, betapa dia meyakini ibunya
kalau akhwat pilihan hatinya itu menyejukan mata,wanita yang teduh pandanganya,
lembut tutur katanya, menjaga kehormatanya, dan hanya bersolek untuk suaminya
kelak. betapa dia rindu ingin memiliki pasangan hidup seperti gadis itu. Kemudian pada paragraph selanjutnya dia
tuturkan bahwa kalau Allah mengizinkan dia ingin gadis membangun keluarga
dengan gadis itu dan melahirkan generasi generasi emas lainya. “hmmmssshhh” aku
menarik nafas panjang.
Kemudian
ada bulir bulir sejuk di pipiku, aku harap itu keringat tapi kamar ini justru
terasa sangat dingin karena kipas angin on sejak aku masu kamar tadi. Aku masih
malu kalau kalau itu adalah air mataku.
Sudah
sejak pertama kali menjadi mahasiswa di kampus ini aku ingin menjadi seorang
aktivis, seorang akhwat. keinginan itu ada jauh sebelum aku mengenal dirinya,
jauh sebelum dia menjadi kakak tingkat mahasiswa baru dikampusku. Tapi hidayah
tak kunjung kusadari jua. aku masih menjadi perempuan yang belum mengerti apa
itu cantik menurut islam,apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh seorang
muslimah. Dan juga banyak faktor dan godaan lain yang aku rasa makin
berat.namun InsyAllah aku tetap istiqomah memperbaiki diri.Aamiin.
Sejujurnya
masuk ke organisasi ini adalah hal yang wajib aku syukuri disini aku mulai
belajar meninggalkan kebiasaan memiliki sebuah hubungan dengan lawan jenis
tanpa ada ikatan pernikahan (pacaran),apalagi masa lalluku cukup bebas dan
sangat lewat batas terutama pergaulanku dengan lawan jenis. Untuk alasan itulah
aku mengikuti agenda agenda kegiatan dengan niat ingin memperbaiki diri dan
pergaulan. Aku melakukan setiap detailnya dalam rangka membenarkan jalan
hidupku, sama sekali bukan karena ingin mencari perhatianya,apalagi mencuri
hatinya. Hari demi hari pun aku lalui dengan penuh pengharapan dapat
memperbaiki diri menjadi lebih baik, Tapi entah kenapa hari itu aku harus membaca
tulisan ikhwan ini. sebagai seorang perempuan yang biasa, aku sangat tertarik
dengan kepribadianya melalui tulisan tulisanya itu. Sampai aku memilih
menyimpan semua perasaanku ini rapi rapi.
Memang
tidak pernah ada sikap, perlakuan atau apapun yang aku anggap istimewa dari
dirinya karena memang tidak sepantasnya begitu, akupun selalu berusaha
mengerjakan setiap agenda kami dengan professional dan sebisa mungkin
meluruskan niat, karena kami semua punya niat yang sama. Tapi setelah agenda
terlaksana dan selesai, mulai lagi aku lalai, aku mulai sering merangkai mimpi
dan meminta pada Allah menjadikan aku sebagai wanita yang dia pilih.
Sebagai
seorang wanita, ,sejauh ini aku sangat yakin bahwa pernikahan adalah solusi
terbaik dari kebimbangan hati yang tidak kunjung tenang ketimbang memiliki
teman lelaki tanpa ikatan yang legal atau pacaran, Tapi selalu aku bunyikan di
dalam proposal permohonanku pada Allah, seperti apa sosok lelaki yang aku
harapkan. Sama halnya seperti wanita yang lain terlebih lagi aku adalah wanita
awam yang masih miskin pengetahuan dan dangkal pemahaman terhadap agama. Aku
menginginkan sosok lelaki yang dapat mencintaiku karna cintanya pada Allah dan
Rasulnya, membimbing aku kejalan yang baik, menjadi imam dan panutan ladang
surga tempat aku berbakti dan mengabdi, menyayangi orang tuanya, sayang kepada
aku , ibu bapaku dan memiliki hubungan baik dengan kakak adiku, yang menjadi
menantu kebanggaan bapaku, dan mengajak aku dan anak anak kami kelak menuju
surganya Allah Azzawajala. Dan yang lainya aku ingin sosok lelaki yang jauh
dari rokok,suka dengan nasyid dan memiliki pembendaharaan kata yang indah dan
selalu tertuang melalui tulisan tulisan yang menginspirasi banyak orang
kemudian membahas tentang karya karya sastra yang barusan kami lihat,kami
baca,ohm.. Memang sungguh banyak kriteriaku ketika aku lagi mengajukanya pada
Allah, tapi toh inikan namanya juga propopsal, pada Allah pula. Kita boleh
meminta apapun,bukan?
Dia
adalah seorang mahasiswa ushuludin tingkat akhir,seorang ikhwan, aktivis
dakwah, seorang guru bahasa Arab salah satu SDIT di kota ku, dia tidak perokok,
memiliki suara yang bagus saat menyanyikan lagu nasyid, dan lagi memiliki
pembendaharaan kata kata inspiratif yang paling penting jiwanya “sastra”.
Dan
betapa aku sangat egois ketika aku langsung “fix” bahwa ia adalah jelmaan dari
proposalku, wujud dari pendeskripsianku tentang seorang bakal calon menantu
bapaku. Tanpa aku pertimbangkan dulu siapalah diriku ini.
Ini
sama sekali bukan wujud perendahan diri, tapi yang aku ungkapkan memang begitu
adanya. Aku bukanlah seorang akhwat seperti apa yang dia inginkan dan dia minta
pada Allah, bukan pula seorang
aktivis dakwah, belum menjadi seorang
gadis yang berjilbab panjang dan dalam. Sudah barang tentu pandanganku aneh dan
tidak teduh tutur kata ku pun masih
sembarang nyeleneh dan tidak menyejukan pendengaran, apalagi penghafal Alqur’an
yang suci. tentu aku tidak akan bisa menjadi sumber dari tulisan tulisanya
kelak,oh apalagi disamakan dengan asosiasinya tentang seorang bidadari, Ya Rabb sadarkan aku sekarang juga. Secara
otomatis apa aku layak dibanggakan di depan ibunya?ah sudah jangan dijawab.
Saat
seseorang membuat satu nama sebagai permohonan kepada Allah untuk jodohnya
kelak, namun yang disebutkan namanya justru menyebutkan satu nama yang lain,
maka Allah lah yang maha tau mana yang baik untuk yang mana.
Wahai
Rabb, jauhkan aku dari perasaan yang lalai ini, teguhkan hatiku bahkan disaat
keadaan benar benar telah menegaskan siapa daku. Jika dirinya Kau rasa bukanlah
untukku, maka tenangkanlah hatiku dengan segera, jangan biarkan aku berlama
lama dalam perasaan yang akan merusak
usahaku ini. Namun jika Engkau mengabulkan proposalku, jangan juga biarkan hati
ini berlama lama tidak tenang dalam perasaan tidak aman. Datangkanlah jodoh
darimu yang baik untuku,untuk agamaku,untuk orang tuaku dan adik kakaku.yang
dengan berani datang kerumah berbicara pada Bapaku bahwa dia ingin menikahiku
karna cintanya pada Mu. Aku memang ingin dia, tapi Engkau maha tau kebutuhanku.
Kemudian
aku berdesis berandai andai , takut jika
suatu saat dia membaca tulisanku ini, oke aku akan minta maaf. aku tidak ada
maksudku mengusik apalagi merusak citra diriku apalagi nama baik dirinya
melalui tulisan ini. Hanya sebagai reminder ketika nanti aku mengingat ingat
apakah perasaan ini anugrah atau hanya ujian semata. Semoga kita terjauh dari
segala fitnah.
Akhirnya
aku menyeka bulir di pipi ini “Astagirullahaladzim”,lalu mematikan laptop dan
buru buru membaca doa tidur agar tidak lagi tergoda untuk melihat tulisan
tulisan tentang nya di bagian yang lain
Aku di diriku yang lain
eNKa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar