Jumat, 06 September 2013

Yang aku minta di Grand Proposal ku


  Kamarku, 30 Agustus 2013

Aku tak tau persis kenapa malam ini yang aku pilih sebagai malam pertamaku mulai menuliskan apa yang aku rasakan terhadap diri ikhwan itu sejak awal aku akui mengagumi sosok dan kepribadianya. Oh mungkin karena aku baru saja selesai membaca baca isi tulisanya yang memang dari situ ku kagumi dia. Sepulang dari rutinitasku yang Alhamdulillah padat dengan agenda kegiatanku sampai bulan depan, kurebahkan diri di kasurku dikamar tercinta, mata memang belum dapat tidur aku membuka akun twitterku niatnya aku ingin menulis sebuah tweet “semangat kak” karena sejak sore hingga malam aku lihat wajahnya penuh lelah tapi tetap dengan keinginanya tentang programnya yang luar biasa. Aku terlibat langsung dalam program itu.
          Iseng aku ‘search’ twitternya dan stalking time linenya dan me retweeted beberapa tweet saja yang ingin ku retweet tanpa alasan yang jelas, walau semua tweetnya sangat menarik untuku. Lalu sudah kuniatkan membalik badan dan ingin membaca doa tidur. Tapi rasanya hati ini terlalu bersemangat ingin mencari tau apa saja yang bisa aku tau tentang diri ikhwan itu yang begitu tak terlihat dengan kasat mata,sekali lagi aku katakana justru aku mengenalnya dari tulisanya. Karena sejak masa sekolah lagi, aku memang mendambakan seorang lelaki yang bijak merangkai kata kata, menyukai lelaki yang menyukai sastra,karena sasstra adalah alasan seorang seniman untuk tetap hidup,sastra bagiku begitu kuat dan menjadi unsur terpenting, walau aku tak  seindah pengertian sastra itu sendiri.
          Kutemukan sebuah tulisan tanpa spasi semacam namanya yang dia pilih sebagai username salah satu blognya, tidak sulilt bagiku untuk mendapat akses masuk kesitu, “wah” batinku saat membaca judulnya, ini bukan pertama kalinya aku mengunjungi blog yang jujur saja memang sangat inspiratif untuku. Tapi malam ini aku entah tanganku entah hatiku yang terus men “scrool down” cursor ku berharap menemukan baacaan bacaan lain atau yang pernah dia tuliskan mengenai hatinya,puisinya, wanita yang diinginkanya,atau apapun yang menjurus ke arah situ.
          Bak gayung bersambut, aku menemukan beberapa judul “Wanita Terindah itu adalah”, “Kalau aku boleh Memilih” dan “Selamat Ulang Tahun mak” khusyu aku membaca satu persatu tulisan itu sampai aku batalkan niatku tidur atau menonton tim bola kesayanganku yang lagi tayang malam ini.
          Sebelumnya aku memang telah siap andai saja apa yang aku baca kelak akan hanya membuat aku kecil hati, minder dan bercermin sedalam dalamnya, bahkan untuk mengaguminya saja aku belum tentu pantas. Ah tapi biarlah toh tidak akan sampai frustasi atau depresi kok InsyAllah. Benar saja setelah kubaca satu persatu tulisan itu kudapati bulir bulir di kelopak mataku,merinding. aku harap ini adalah air mata karena menahan kantuk, ah tapi kok lumayan perih dan darahpun turut berdesir hebat. Apa2 suka dibawa perasaan deh.
          Ketika aku pahami baik2 pemilihan katanya yang begitu lembut, bahwasanya dia telah ditawarkan “mawar wangi” seorang hafidzah gadis penghafal Al quran oleh orang tuanya, aku sempat membacanya sepotong sepotong tapi kali ini aku seperti mendapat konfirmasi secara otomatis dari sepenggal penggal perkiraanku tempo hari. Lalu apa yang salah? Dia adalah seorang ikhwan, aktivis dakwah, seorang mahasiswa tarbiyah semester akhir dan seorang guru bahasa Arab di SDIT, seorang anak lelaki kebanggaan emaknya, sudah barang tentu orang tuanya mencarikan yang terbaik bagi anaknya. Dimana letak kesalahanya ? yap benar kesalahanya terletak pada diriku yang sedari awal tak menimbang nimbang siapa orang yang aku ceritakan saat emakku bertanya “seperti apa pilihanmu?” aku yang salah  tidak mengira ngira siapa seseorang yang namanya aku cantumkan di dalam proposal permohonanku kepada Allah saat meminta hal yang satu itu.
Lalu kemudian aku baca lagi kalimat demi kalimat kali ini serupa curahan hati saat mengucapkan selamat ulang tahun kepada ibunya, setelah mengucapkan terimakasih dia menuliskan bahwasanya sebagai seorang lelaki dewasa dia tertarik dengan seorang perempuan, seorang akhwat aktivis dakwah yang satu organisasi denganya, yang dalam dan panjang jilbabnya dan yang kuat pemahaman agamanya Dan menyebutkan detail demi detail kemolekan akhwat itu, betapa dia meyakini ibunya kalau akhwat pilihan hatinya itu menyejukan mata,wanita yang teduh pandanganya, lembut tutur katanya, menjaga kehormatanya, dan hanya bersolek untuk suaminya kelak. betapa dia rindu ingin memiliki pasangan hidup seperti gadis itu.  Kemudian pada paragraph selanjutnya dia tuturkan bahwa kalau Allah mengizinkan dia ingin gadis membangun keluarga dengan gadis itu dan melahirkan generasi generasi emas lainya. “hmmmssshhh” aku menarik nafas panjang.
Kemudian ada bulir bulir sejuk di pipiku, aku harap itu keringat tapi kamar ini justru terasa sangat dingin karena kipas angin on sejak aku masu kamar tadi. Aku masih malu kalau kalau itu adalah air mataku.
Sudah sejak pertama kali menjadi mahasiswa di kampus ini aku ingin menjadi seorang aktivis, seorang akhwat. keinginan itu ada jauh sebelum aku mengenal dirinya, jauh sebelum dia menjadi kakak tingkat mahasiswa baru dikampusku. Tapi hidayah tak kunjung kusadari jua. aku masih menjadi perempuan yang belum mengerti apa itu cantik menurut islam,apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh seorang muslimah. Dan juga banyak faktor dan godaan lain yang aku rasa makin berat.namun InsyAllah aku tetap istiqomah memperbaiki diri.Aamiin.
Sejujurnya masuk ke organisasi ini adalah hal yang wajib aku syukuri disini aku mulai belajar meninggalkan kebiasaan memiliki sebuah hubungan dengan lawan jenis tanpa ada ikatan pernikahan (pacaran),apalagi masa lalluku cukup bebas dan sangat lewat batas terutama pergaulanku dengan lawan jenis. Untuk alasan itulah aku mengikuti agenda agenda kegiatan dengan niat ingin memperbaiki diri dan pergaulan. Aku melakukan setiap detailnya dalam rangka membenarkan jalan hidupku, sama sekali bukan karena ingin mencari perhatianya,apalagi mencuri hatinya. Hari demi hari pun aku lalui dengan penuh pengharapan dapat memperbaiki diri menjadi lebih baik, Tapi entah kenapa hari itu aku harus membaca tulisan ikhwan ini. sebagai seorang perempuan yang biasa, aku sangat tertarik dengan kepribadianya melalui tulisan tulisanya itu. Sampai aku memilih menyimpan semua perasaanku ini rapi rapi.
Memang tidak pernah ada sikap, perlakuan atau apapun yang aku anggap istimewa dari dirinya karena memang tidak sepantasnya begitu, akupun selalu berusaha mengerjakan setiap agenda kami dengan professional dan sebisa mungkin meluruskan niat, karena kami semua punya niat yang sama. Tapi setelah agenda terlaksana dan selesai, mulai lagi aku lalai, aku mulai sering merangkai mimpi dan meminta pada Allah menjadikan aku sebagai wanita yang dia pilih.
Sebagai seorang wanita, ,sejauh ini aku sangat yakin bahwa pernikahan adalah solusi terbaik dari kebimbangan hati yang tidak kunjung tenang ketimbang memiliki teman lelaki tanpa ikatan yang legal atau pacaran, Tapi selalu aku bunyikan di dalam proposal permohonanku pada Allah, seperti apa sosok lelaki yang aku harapkan. Sama halnya seperti wanita yang lain terlebih lagi aku adalah wanita awam yang masih miskin pengetahuan dan dangkal pemahaman terhadap agama. Aku menginginkan sosok lelaki yang dapat mencintaiku karna cintanya pada Allah dan Rasulnya, membimbing aku kejalan yang baik, menjadi imam dan panutan ladang surga tempat aku berbakti dan mengabdi, menyayangi orang tuanya, sayang kepada aku , ibu bapaku dan memiliki hubungan baik dengan kakak adiku, yang menjadi menantu kebanggaan bapaku, dan mengajak aku dan anak anak kami kelak menuju surganya Allah Azzawajala. Dan yang lainya aku ingin sosok lelaki yang jauh dari rokok,suka dengan nasyid dan memiliki pembendaharaan kata yang indah dan selalu tertuang melalui tulisan tulisan yang menginspirasi banyak orang kemudian membahas tentang karya karya sastra yang barusan kami lihat,kami baca,ohm.. Memang sungguh banyak kriteriaku ketika aku lagi mengajukanya pada Allah, tapi toh inikan namanya juga propopsal, pada Allah pula. Kita boleh meminta apapun,bukan?
Dia adalah seorang mahasiswa ushuludin tingkat akhir,seorang ikhwan, aktivis dakwah, seorang guru bahasa Arab salah satu SDIT di kota ku, dia tidak perokok, memiliki suara yang bagus saat menyanyikan lagu nasyid, dan lagi memiliki pembendaharaan kata kata inspiratif yang paling penting jiwanya “sastra”.
Dan betapa aku sangat egois ketika aku langsung “fix” bahwa ia adalah jelmaan dari proposalku, wujud dari pendeskripsianku tentang seorang bakal calon menantu bapaku. Tanpa aku pertimbangkan dulu siapalah diriku ini.
Ini sama sekali bukan wujud perendahan diri, tapi yang aku ungkapkan memang begitu adanya. Aku bukanlah seorang akhwat seperti apa yang dia inginkan dan dia minta pada Allah,  bukan pula seorang aktivis  dakwah, belum menjadi seorang gadis yang berjilbab panjang dan dalam. Sudah barang tentu pandanganku aneh dan tidak teduh tutur kata  ku pun masih sembarang nyeleneh dan tidak menyejukan pendengaran, apalagi penghafal Alqur’an yang suci. tentu aku tidak akan bisa menjadi sumber dari tulisan tulisanya kelak,oh apalagi disamakan dengan asosiasinya tentang seorang bidadari,  Ya Rabb sadarkan aku sekarang juga. Secara otomatis apa aku layak dibanggakan di depan ibunya?ah sudah jangan dijawab.
Saat seseorang membuat satu nama sebagai permohonan kepada Allah untuk jodohnya kelak, namun yang disebutkan namanya justru menyebutkan satu nama yang lain, maka Allah lah yang maha tau mana yang baik untuk yang mana.
Wahai Rabb, jauhkan aku dari perasaan yang lalai ini, teguhkan hatiku bahkan disaat keadaan benar benar telah menegaskan siapa daku. Jika dirinya Kau rasa bukanlah untukku, maka tenangkanlah hatiku dengan segera, jangan biarkan aku berlama lama dalam perasaan  yang akan merusak usahaku ini. Namun jika Engkau mengabulkan proposalku, jangan juga biarkan hati ini berlama lama tidak tenang dalam perasaan tidak aman. Datangkanlah jodoh darimu yang baik untuku,untuk agamaku,untuk orang tuaku dan adik kakaku.yang dengan berani datang kerumah berbicara pada Bapaku bahwa dia ingin menikahiku karna cintanya pada Mu. Aku memang ingin dia, tapi Engkau maha tau kebutuhanku.
Kemudian aku berdesis berandai andai ,  takut jika suatu saat dia membaca tulisanku ini, oke aku akan minta maaf. aku tidak ada maksudku mengusik apalagi merusak citra diriku apalagi nama baik dirinya melalui tulisan ini. Hanya sebagai   reminder ketika nanti aku mengingat ingat apakah perasaan ini anugrah atau hanya ujian semata. Semoga kita terjauh dari segala fitnah.
Akhirnya aku menyeka bulir di pipi ini “Astagirullahaladzim”,lalu mematikan laptop dan buru buru membaca doa tidur agar tidak lagi tergoda untuk melihat tulisan tulisan tentang  nya di bagian yang lain


Aku di diriku yang lain


eNKa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar